Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Laptop masih menyala, tab Word masih kosong, dan besok pagi RPP itu harus sudah ada di meja kepala sekolah. Kalau kamu guru, situasi ini mungkin terasa familiar banget.
Atau mungkin kamu bukan guru, tapi orang tua yang penasaran kenapa anak di sekolah sekarang jarang disuruh menghafal, tapi lebih sering diajak diskusi dan bikin proyek. Jawabannya ada di balik satu dokumen yang sering disepelekan: RPP Kurikulum Merdeka.
Kabar baiknya, menyusun RPP di Kurikulum Merdeka itu sebenarnya nggak seribet yang dibayangkan. Bahkan, dibanding era Kurikulum 2013, formatnya jauh lebih longgar. Masalahnya cuma satu: banyak guru masih terjebak pola lama, mikir RPP harus tebal, formal, dan penuh istilah njelimet padahal esensinya sudah berubah total.
Yuk, kita bedah bareng-bareng, dari mana sebenarnya harus mulai.
Sebelum Lanjut, Kenalan Dulu: RPP itu Sekarang Namanya Apa?
Ini pertanyaan yang sering bikin bingung. Jadi begini ceritanya.
Di Kurikulum Merdeka, istilah RPP sebenarnya sudah bergeser jadi Modul Ajar. Bukan sekadar ganti nama doang, tapi isinya juga lebih kaya. Kalau RPP klasik cuma memuat tujuan, langkah pembelajaran, dan asesmen secara ringkas, Modul Ajar itu lebih lengkap—ada materi ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), rubrik penilaian yang detail, sampai panduan untuk mendorong siswa berpikir mendalam.
Tapi tenang, kamu nggak dipaksa pilih salah satu secara kaku. Faktanya:
Kalau kamu sudah bikin Modul Ajar, itu otomatis sudah dianggap memenuhi kewajiban menyusun RPP, karena Modul Ajar pada dasarnya adalah "RPP versi lengkap".
Guru tetap boleh pakai RPP ringkas—bahkan format satu lembar—asalkan tiga komponen inti (tujuan, kegiatan, asesmen) tetap ada.
Nggak perlu bikin RPP dan Modul Ajar sekaligus untuk topik yang sama. Pilih salah satu yang paling sesuai dengan kesiapanmu.
Jadi kalau Bunda atau Ayah bertanya-tanya kenapa buku catatan gurunya anak beda dari zaman kalian sekolah dulu, sekarang sudah tahu jawabannya.
Kenapa Kurikulum Merdeka Bikin Format Perencanaan Lebih Bebas?
Semangat besarnya sederhana: guru dikasih ruang untuk berkreasi, bukan sekadar mengisi template. Pemerintah nggak lagi mewajibkan format baku tertentu—yang penting substansinya kena, yaitu ada tujuan pembelajaran, langkah-langkah kegiatan, dan cara menilai hasilnya.
Prinsip ini penting dipahami karena banyak guru justru menghabiskan waktu berjam-jam mendandani dokumen supaya "kelihatan lengkap", padahal yang dicari sebenarnya adalah kejelasan proses belajarnya, bukan ketebalan berkasnya.
Ada tiga nilai yang jadi fondasi penyusunan RPP maupun Modul Ajar di kurikulum ini, dan ketiganya cukup gampang diingat karena bunyinya seperti mantra:
Berkesadaran — siswa diajak sadar sedang belajar apa, dan sejauh mana pemahamannya.
Bermakna — materi dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa, bukan cuma teori di udara.
Menggembirakan — suasana belajar dibuat aman dan menyenangkan, biar rasa ingin tahu tetap hidup.
Kalau tiga hal ini sudah tercermin di RPP-mu, sebenarnya kamu sudah di jalur yang benar, sekalipun formatnya cuma satu halaman.
Langkah Praktis Menyusun RPP Kurikulum Merdeka
Sekarang masuk ke bagian yang paling ditunggu: caranya. Anggap ini seperti resep masakan—ada bahan wajib, ada bumbu tambahan yang bisa disesuaikan selera.
1. Mulai dari Capaian Pembelajaran (CP), Bukan dari Kegiatan
Kesalahan paling umum adalah langsung mikirin "hari ini mau ngajar apa" sebelum tahu targetnya apa. Padahal urutannya harus dibalik.
Baca dulu Capaian Pembelajaran (CP) untuk fase dan mata pelajaran terkait, lalu turunkan jadi Tujuan Pembelajaran (TP) yang lebih spesifik dan bisa diukur. Ibaratnya, CP itu peta besar tujuan akhir perjalanan, sedangkan TP adalah titik-titik pemberhentian di sepanjang rute.
2. Rancang Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Secara Logis
Setelah TP jelas, susun urutannya biar nyambung satu sama lain—dari konsep yang paling dasar ke yang lebih kompleks. Ini yang disebut Alur Tujuan Pembelajaran, semacam benang merah yang menghubungkan satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.
Tips kecil: coba bayangkan kamu lagi cerita ke murid dari awal sampai akhir semester. Kalau alurnya kamu sendiri bingung menjelaskannya, kemungkinan besar strukturnya juga perlu dirapikan.
3. Rumuskan Pertanyaan Pemantik yang Menggugah
Ini komponen yang sering dilewatkan padahal krusial banget. Pertanyaan pemantik adalah pintu masuk supaya siswa penasaran sebelum materi dijelaskan.
Contoh sederhana: daripada langsung membahas topik "pencemaran lingkungan" secara teoretis, ajak siswa mengamati kondisi sungai atau selokan dekat sekolah, lalu lempar pertanyaan, "Menurut kalian, kenapa airnya bisa keruh begini?" Dari situ, rasa ingin tahu jadi motor penggerak belajarnya, bukan paksaan menghafal.
4. Rancang Kegiatan Pembelajaran yang Berdiferensiasi
Nah, ini yang bikin Kurikulum Merdeka terasa beda. Nggak semua siswa harus diperlakukan sama persis.
Beberapa cara sederhana memulai diferensiasi tanpa harus ribet:
Gunakan asesmen diagnostik singkat di awal untuk memetakan kemampuan siswa, lalu kelompokkan sesuai kebutuhan belajar mereka.
Beri pilihan cara menunjukkan pemahaman—ada yang lebih nyaman menulis, ada yang lebih pede presentasi lisan, ada juga yang jago bikin infografis atau video pendek.
Nggak perlu mendiferensiasi semua aspek sekaligus. Mulai dari satu bagian dulu, misalnya cara siswa menunjukkan hasil belajar, baru berkembang ke bagian lain kalau sudah terbiasa.
5. Susun Asesmen yang Menyeluruh, Bukan Cuma Angka Ujian
Asesmen di Kurikulum Merdeka nggak melulu soal ulangan tertulis. Ada tiga jenis yang idealnya saling melengkapi:
Asesmen diagnostik — dilakukan di awal, buat tahu kondisi awal siswa.
Asesmen formatif — berlangsung selama proses belajar, semacam "cek kesehatan" berkala.
Asesmen sumatif — dilakukan di akhir topik atau semester, untuk menyimpulkan capaian.
Kombinasi ketiganya bikin penilaian lebih adil, karena nggak cuma menilai hasil akhir tapi juga perjalanan belajarnya.
6. Manfaatkan Referensi yang Sudah Tersedia
Kamu nggak wajib bikin semuanya dari nol. Pemerintah lewat Platform Merdeka Mengajar (PMM) sudah menyediakan ribuan contoh Modul Ajar siap pakai yang bisa dijadikan bahan awal.
Strategi yang sering disebut ATM—Amati, Tiru, Modifikasi—ini sah-sah saja dan justru disarankan, terutama buat guru yang baru beradaptasi. Ambil contoh dari PMM, sesuaikan dengan karakteristik siswa dan kondisi sekolahmu, lalu modifikasi bagian yang perlu.
Beda RPP dan Modul Ajar: Biar Nggak Ketuker Lagi
Supaya makin jelas, ini perbandingan singkatnya:
AspekRPPModul AjarKedalamanRingkas, tiga komponen intiLebih lengkap, ada materi, LKPD, rubrikFokus belajarCenderung ke pemahaman dasarDidesain untuk mendorong pemikiran kritisDiferensiasiTerbatas, formatnya ringkasRuang lebih luas untuk berbagai versi LKPDKapan cocok dipakaiGuru yang sudah berpengalaman dan butuh dokumen cepatGuru yang butuh panduan lebih rinci dan siap eksekusi
Nggak ada yang lebih "benar". Keduanya sah dipakai, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan jam terbangmu sebagai pengajar.
Buat Dosen dan Guru SMA, Ada yang Perlu Disesuaikan?
Prinsip dasarnya tetap sama, cuma konteksnya beda. Untuk jenjang menengah dan perguruan tinggi, biasanya penekanannya lebih ke arah pembelajaran mendalam (deep learning) dan penguatan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau HOTS.
Beberapa hal yang bisa jadi perhatian tambahan:
Integrasikan proyek yang relevan dengan isu nyata di bidang studi masing-masing, bukan cuma studi kasus dari buku teks.
Rancang tugas yang mendorong analisis dan argumentasi, bukan sekadar reproduksi materi kuliah.
Untuk SMA/SMK, perhatikan juga keterkaitan dengan proyek penguatan karakter siswa, yang biasanya dirancang lintas mata pelajaran.
Tips Anti-Ribet Biar Nggak Begadang Lagi
Beberapa kebiasaan kecil yang bisa langsung dicoba minggu ini:
Jangan mulai dari kertas kosong. Cari dulu contoh ATP dan Modul Ajar sejenis di PMM, baru sesuaikan.
Kerja bareng, bukan sendirian. Diskusi dengan sesama guru mapel sering bikin ide mengalir lebih cepat daripada mikir sendiri di depan laptop.
Simpan template pribadi. Setelah nemu format yang nyaman, simpan sebagai kerangka baku, tinggal isi ulang tiap topik baru.
Catat refleksi setelah mengajar. Sekadar dua-tiga kalimat tentang apa yang jalan dan apa yang perlu diperbaiki, biar RPP berikutnya makin matang.
Jangan kejar kesempurnaan di draf pertama. RPP boleh direvisi sambil jalan, yang penting kerangka besarnya sudah ada.
Penutup: RPP Bukan Beban, Tapi Peta Perjalanan
Kalau dipikir-pikir lagi, RPP atau Modul Ajar itu sebenarnya cuma alat bantu, bukan tujuan akhir. Fungsinya mirip peta sebelum jalan-jalan—nggak harus detail sampai ke setiap tikungan, yang penting arah dan tujuannya jelas, biar kita dan siswa nggak tersesat di tengah jalan.
Kurikulum Merdeka sebenarnya sedang mengajak kita semua, guru, dosen, sampai orang tua, untuk melihat proses belajar bukan sebagai formalitas administratif, tapi sebagai perjalanan yang benar-benar bermakna buat anak-anak kita.
Jadi, gimana pengalamanmu selama ini menyusun RPP atau Modul Ajar? Ada tips lain yang biasa kamu pakai biar prosesnya lebih santai? Yuk, ceritakan di kolom komentar!